Rabu, 27 Januari 2010

BERBURU IKAN PAUS SEBUAH TRADISI MASYARAKAT SUKU LAMAHOLOT DI NUSA TENGGARA TIMUR

Lamaholot adalah salah satu suku bangsa yang berasal di Kabupaten Flores Timur, propinsi NTT. Daerah pemukiman meliputi bagian timur Pulau Flores, pulau Adonara, pulau Solor, Pulau Lembata dan Pulau Lomblem. Penyebaran suku Lamaholot di Nusa Tenggara Timur ini bisa di lacak dari penyebaran bahasanya. Orang lamaholot memiliki bahasa daerah sendiri yaitu bahasa Lamaholot. Bahasa ini bersama bahasa suku lain (seperti Sikka, krowe Muhang) Muhang digolongkan ke dalam rumpun bahasa Ambon Timur. Bahasa lamaholot sendiri di bagi menjadi beberapa bahasa yaitu bahasa lamaholot barat, lamaholot tengah dan Lamaholot Timur. Bahasa lamaholot Barat yang paling besar jumlah penuturnya, terdiri atas beberapa dialek, yaitu dialek Pukanunu, Lewotobi, Lewolaga, Bama, lewolema, Waibula, Baipito, Tanjung, Buton, Horowaru, Waiwadan, Watan, Kiwang Ona, Dulhi, Wa Kerong, Belang, Lamalera, Mulan, Lamahora, Merdeka, Ile Ape, Ritaebang dan Lamakera. Bahasa Lamaholot tengah terdiri atas dialek Mingar, Lewo Penutu, Lewotala, Lewokukun, Imaldo, Lewuka, Kalikarang dan Painara. Bahasa Lamaholot timur yang paling sedikit jumlah penuturnya terdiri atas dialek Lewowlong dan Lamatuka

Sebagian besar dari orang Lamaholot mempunyai mata pencaharian adalah bercocok tanam yaitu berladang dengan tanamn padi sebagai tanaman utamanya. Namun ada beberapa daerah yang mata pencaraian bukan pertanian, orang lamaholot yang tingal di daerah pantai memepunyai matapencaharian sebagai nelayan, yaitu seperti desa Lamalera yang berada di pulau Lembata dan desa lamakera yang berada di wilayah pulau Solor timur. Dua daerah ini terkenal sebagai desa nelayan yang biasa berburu ikan paus dengan menggunakan tempuling. Nama Lamalera diambil dari bahasa Lamaholot --bahasa daerah di kawasan Pulau Flores Timur. Lama berarti "piringan" atau "cakram", sedangkan lera bermakna matahari. Lamalera berarti "piringan/cakram matahari". Lamalera, berhadapan dengan Laut Sawu, merupakan jalur migrasi paus.

Dari seluruh daerah Nusa Tenggara Timur atau bahkan di seluruh Indonesia, masyarakat pemburu ikan paus hanya ada di dua tempat tersebut, walaupun sebenarnya Perkampungan nelayan di jalur migrasi paus di NTT cukup banyak, tetapi belum pernah terdengar ada yang menjadi pemburu paus seperti warga Lamalera dan daerah Lamakera tersebut. Tubak keraru atau menombak ikan paus adalah suatu kebanggaan bagi orang Lamalera dan Lamakera. Kata keraru berasal dari bahasa Lamaholot yang berarti ikan paus, tidak menunjukkan satu jenis ikan paus. Pada sekitar tahun pertengahan 1990an Lamakera sudah lebih terbuka dibandingkan dengan daerah Lamalera dalam menghadapi perkembangan teknologi, Lamakera sudah menggunakan perahu motor tempel sedangkan di daerah Lamalera masih mepertahankan teknologi tradisional mereka dan menolak kedatangan teknologi modern. Nelayan Lamalera menggunakan peralatan sederhana berupa perahu kayu yang disebut Pledang, bertenaga dayung, dan layar dari anyaman daun. Cara menangkap paus dilakukan dengan menggunakan tombak tradisional.

Bagi nelayan Lamakera pergi melaut adalah seperti layaknya berangkat ke medan perang, nyawa adalah taruhannya. Sebelum mereka melaut seluruh maslah rumah harus diselesaikan terlebih dahulu. Cekcok dengan tetangga dan sanak saudara harus dihilangkan. Jika akan berangkat melaut para awak dan Belewaeng atau komandan kapal pantang kembali ke rumah sesaat setelah berpamitan kepada keluarga, bahkan menolehpun tak boleh meski si bayi merengek keras-keras.

Ada ritual khusus yang dilakukan sebelum kapal berangkat seperti melakukan prosesi penyiraman air dan minyak kelapa ke seluruh bagian tubuh perahu, memutr dari sebelah kanan. Di daerah Lamalera, masyarakatnya melakukan upacara adat yang disebut iyegerek. Tujuannya untuk memanggil ikan di laut. Dalam melakukan ritual ini sudah ada percampuran dengan agama modern yaitu agama kristen. Seperti pada prosesi ritual berikut ini setelah upacara iyegerek, mereka menggelar misa arwah pada sore harinya. Selama perayaan misa arwah, nelayan pantang melaut. Misa dilaksanakan di pantai, di depan Kapel Santo Petrus. Upacara dipimpin oleh seorang Pastor. Mereka berkumpul memperingati arwah nelayan yang telah berjuang selama hidupnya demi kebutuhan keluarga. Setelah serangkaian acara, misa ditutup dengan doa khusus untuk arwah. Masyarakat Lamalera percaya, jika jenazah mereka yang hilang tidak diperhatikan maka arwahnya akan marah, dan berakibat jatuhnya korban terus-menerus. Untuk meredam kemarahan arwah, maka dilakukan penguburan kerang besar sebagai pengganti. Dan juga dikirim doa lewat misa arwah di depan Kapel Santo Petrus. Kapel di pantai itu, menurut seorang Pastor yang bernama Jacobus, dibangun agar nelayan selalu ingat dengan Santo Petrus sebelum melaut. Santo Petrus adalah pelindung masyarakat Lamalera. Dia murid Yesus yang pekerjaannya nelayan. Upacara dilanjutkan dengan pemberkatan laut dan perahu. Pastor memercikkan air pada peledang atau perahu. Usai diberkati, peledang didorong ke laut. Layar yang terbuat dari daun pandan dikembangkan. Musim lefa resmi dibuka. Selanjutnya pastor memberkati 18 peledang yang tertambat di pantai satu per satu. Kemudian masyarakat selalu mengawasi Laut Sawu. Jika mereka melihat semburan paus, maka mereka akan berteriak "baleo, baleo..." bersahut-sahutan di seantero desa. Peledang pun segera didorong ke laut untuk mengejar raksasa samudra itu.

Berburu ikan paus ini menjadi sebuah kebanggaan bagi masyarakat nelayan di kedua daerah itu. Setiap perburuan ikan paus bisa diikuti tiga sampai empat perahu. Mereka berangkat bersama-sama dan menuju tempat yang sama pula. Artinya, mereka akan melakukan perlombaan perburuan. Mereka betul-betul bagai bermusuhan. Setelah sampai daerah sasaran tempat sasaran di mana ikan paus itu berada, merekapun mulai mengadu ketangkasan denga tidak saling berkata-kata, aba-aba diberikan dengan isyarat. Nampak sekali permusuhan antara mereka. Meski begitu mereka tak akan melanggar pamali laut, yaitu: tidak menabrakkan perahu, tidak mengambil air dari perahu yang lewat, dan berbicara kotor pada saat-saat penting perburuan. Jika salah satu perahu berhasil menombak ikan paus, maka perahu tersebut yang telah berhasil memenangkan pertandingan, semua peserta lantas menghentikan perburuannya dan gotong royong. Perahu-perahu yang tak berhasil memenangkan pertandingan mengikatkan dirinya sebagai pemberat untuk menahan ikan paus yang kesetanan karena luka akibat terkena tombak.

Penangkapan paus secara tradisional ini sudah berlangsung sejak nenek moyang. Perburuan ini dilakukan secara turun temurun oleh warga Lamalera di Pulau Lembata, Nusa Tenggara Timur, dikenal sebagai nelayan pemburu ikan paus dan merupakan sumber hidup mereka. Daging paus hasil tangkapan dibagi sesuai aturan yang telah ditetapkan secara musyawarah di wilayah itu. Masyarakat Lamalera sudah mempunyai tatanan baku untuk membagi perolehan mereka, yaitu mengutamakan tuan tanah, pemiliki kapal, lamafa, para matros, dan orang-orang yang dianggap terlibat membantu proses penangkapan. Ada suku atau marga tertentu, pemilik perahu, tombak, dan penombak mendapat bagian khusus. Ada yang dapat ekor, kepala, bagian perut, isi, dan seterusnya. Daging, minyak, kulit, tulang, kepala, ekor, dan lainnya dimanfaatkan sesuai kebutuhan pemilik. Sebagian besar ditukar (barter) dengan jagung, padi, beras, singkong, dan kacang kacangan di pasar yang disebut Wulandoni. Daging paus hasil tangkpan ditukar dengan barang kebutuhan sehari-hari.Daging paus itu macam mata uang. Bisa ditukar apa saja. Seukuran telapak tangan orang dewasa, misalnya, bisa ditukar dengan sebatang rokok. Begitu tersiar kabar paus ditangkap, berbondong-bondong orang gunung yang pekerjaannya bertani turun ke pantai. Mereka membawa hasil bumi berupa ubi dan jagung untuk ditukar dengan daging paus.

Dalam bahasa daerah Lamaholot musim penangkapan ikan paus ini di sebut "Nuang Leva", yang berarti musim melaut. Ada dua musim bagi nelayan Lamalera memburu paus yaitu musim lefa pada bulan Mei-Agustus dan musim baleo pada September-April. Dalam satu pekan nelayan Lamalera bisa menangkap 2-3 ekor. Setiap tahun masyarakat dan nelayan tradisional di Lamalera, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT), bisa menangkap 20 ekor paus. Penangkapan paus secara tradisional ini berlangsung sejak ratusan tahun silam. Dalam waktu 48 tahun terakhir sejak 1959 hingga 2007, nelayan Lamalera di Kabupaten Lembata, NTT, sudah menangkap sekitar 838 ikan paus dengan cara tradisional.

**

Kesuksesan dalam berburu ikan paus ini sekaligus membanggakan, namun juga merisaukan. Hal ini mengingat bahwa ikan paus merupakan satwa yang dilindungi secara internasional. Sebab, proses reproduksi paus yang berlangsung lambat menunggu sampai paus berusia dewasa 20 tahun dan bisa melahirkan bayi, tak sebanding dengan populasi paus yang mati diburu.

Di perlukan adanya kearifan lokal untuk menjaga paus. Pada masyarakat Lamalera ada keyakinan yang berlaku yaitu pantangan memburu paus biru. Menurut ceritanya, karena pernah menolong orang. Pernah suatu ketika, ada yang nekat menangkap paus biru. Dagingnya tidak laku dibarter. Ibu-ibu melarang peralatan dapurnya digunakan memasak daging paus biru.

Tradisi menangkap ikan Paus di Lamalera dengan menggunakan perahu dan alat tangkap tradisional bisa menjadi obyek wisata bahari sekaligus wisata budaya yang menarik. Setiap orang dapat menyaksikan bagaimana ketangkasan para nelayan Lamalera dalam upaya menangkap jenis ikan besar (paus) yang penuh dengan risiko tinggi bahkan mengacam diri mereka sendiri. Untuk itu mereka biasanya melakukan upacara ritus sebelum turun ke laut.

Laut Sawu di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) direncanakan akan dideklarasikan sebagai kawasan konservasi nasional untuk perlindungan mamalia laut, khususnya paus. Laut seluas 4,5 juta hektar tersebut akan menjadi satu-satunya kawasan konservasi nasional yang khusus melindungi ikan paus Deklarasi dilakukan pada bulan mei 2009 yang menyatakan bahwa laut Sawu sebagai kawasan konservasi nasional akan dilakukan bersamaan dengan pelaksanaan "World Ocean ConEfrence and Coral Triangle Initiative Summit" di Manado, Sulawesi Utara, dipilihnya Laut Sawu menjadi kawasan konservasi nasional karena laut antara Provinsi NTT dan Australia tersebut merupakan tempat habitat terbesar paus. masyarakat setempat menjadikan ikan paus tersebut sebagai satwa buru sehingga jika tidak segera dilindungi maka ikan paus jenis langka bisa punah. Sedangkan Laut Sawu merupakan jalur migrasi 14 jenis ikan paus, termasuk jenis langka, yakni ikan paus biru (Balaenoptera musculus) dan ikan paus sperma (Physeter macrocephalus).

Namun menurut seorang ahli kelautan yang bernama Dr Benjamin Kahn, beliau adalah peneliti mamalia laut dari APEX Environmental Program Cetacean Laut Asia-Pasific, tradisi nelayan Lamalera dalam memburu ikan paus itu, memiliki dampak yang sangat kecil terhadap kepunahan mamalia laut. Ikan Paus yang ditangkap nelayan Lamalera tidak masuk dalam kategori mamalia laut yang dilindungi karena ada aturan adat dalam masyarakat Lamalera untuk tidak menangkap paus jenis tertentu, seperti paus jantan besar dan betina yang sedang hamil. Secara tidak langsung, tambahnya, nelayan Lamalera sebenarnya sudah melakukan konservasi terhadap mamalia laut tersebut, tetapi dalam bentuk yang berbeda. Ada kearifan lokal yang berlaku pada masyarakat setempat untuk menjaga paus. Pada masyarakat Lamalera ada keyakinan yang berlaku yaitu pantangan memburu paus biru. Menurut cerita, karena pernah menolong orang. Pada suatu ketika ada yang nekat menangkap paus biru. Dagingnya tidak laku dibarter. Ibu-ibu melarang peralatan dapurnya digunakan memasak daging paus biru.

Kepunahan dari habitat ikan paus ini bisa terjadi akibat dari perburuan besar-besaran terhadap mamalia laut itu yang pernah dilakukan oleh nelayan dari Jepang dengan peralatan tangkap yang modern pada tahun tahun 1960-1970 sehingga dikhawatirkan akan memberi dampak buruk terhadap kehidupan mamalia laut tersebut. Perburuan dengan peralatan modern ini yang perlu dicegah karena dampaknya sangat buruk terhadap eksistensi mamalia laut yang dilindungi.

Selain itu dampak yang paling besar yang menimbulkan punahnya habitat mamalia laut ini adalah limbah plastik yang terbawa ke laut, limbah industri yang ada di wilayah pesisir, serta pengeboran minyak lepas pantai seperti yang terjadi di Laut Timor saat ini. Pengeboran minyak lepas pantai ini tidak memedulikan soal analisa mengenai dampak lingkungan terhadap migrasi mamalia laut di wilayah perairan sekitarnya. Ini yang sangat berbahaya karena mamalia laut itu sangat rentan terhadap limbah industri dan desingan mesin.

***

Dalam melihat permasalahan tersebut di atas kita harus lebih holistik karena di sini ada kepentingan masyarakat yang dipertaruhkan di sana. Tradisi yang dilaksanakan di masyarakat Lamalera dan Lamakera itu harus selalu ada. Di lain pihak ada kepentingan yang lain yaitu program konservasi bagi kehidupan ikan paus supaya terjaga dari kepunahan. Hal ini memang menjadi dilema tersendiri.

Peran seorang antrologi diperlukan dalam menangani hal ini, karerna tugas antropolog adalah menjembatani pelaksana dari program dari pihak pemerintah yang akan menjalankan program konservasi tersebut dan penerima program masyarakat setempat yaitu masyarakat Lamaholot yang sering berburu ikan paus. Tugas ilmu antropologi di sini adalah mengubah pandangan yang top down menjadi bottom up.. Karena ilmu antropologi bekerja dengan melalui pengetahuan tentang sistem lokal yang ada masyarakat. Pengatahuan yang ada dimasyarakat menjadi kunci tentang kebehasilan dari program ini. Dengan ada pengertian akan relativisme kebudayaan yang di jalankan yang lebih menekan pandangan emik dan etik , yaitu melihat kebudayaan dalam dua sisi yang ada melihat kebudayaan lain dengan norma-norma yang kita miliki dan melihat dalam norma-norma dari sisi pemilih kebudayaan tersebut. maka keberlangsung program itu akan bisa di terima masyarakat setempat. seperti halnya program konservasi perlindungan Ikan paus kita tidak bisa menyalahkan masyarakat pemburunya saja. Karena bila kita melihat kembali paparan di atas ternyata mereka sudah memiliki sistem konservasi tersendiri.

Bila kita akan mengubah masyarakat berburu ikan paus ini berarti kita harus mengubah sistem budaya yang telah dilakukan secara turun temurun. Sistem budaya ini memang berpengaruh sangat besar dalam kehidupan kita. Menurut Foster yang memberi contoh hambatan-hambatan budaya dalam melakukan perubahan yang direncanakan, menyatakan bahwa budaya menentukan posisi di mana kita tidur, berdiri, duduk, dan bersantai. Budaya menentukan apa gerak tubuh yang kita gunakan, bagaimana kita mempertahankan dan menggunakan alat-alat, dan bagaimana kita memanipulasi tubuh kita dalam jumlah tidak terbatas situasi dan bagaimana kita berperilaku. Sistem budaya menjadi dasar dalam pengambilan keputusan. Budaya ini bisa menjadi hambatan pada upaya perubahan yang direncanakan. Apabila merujuk pada foster tersebut maka mengubah sistem budaya yang menyangkut akan seperti mengubahan pola gerak tubuh kita yang telah di pelajari dari kecil oleh pendidikan adat. Terlebih lagi terhadap sistem adat yang telah mapan. Kita dapat melatih anak kecil untuk mengubah perilakunya dengan lebih mudah bila dibandingkan dengan mengubah orang dewasa. Oleh karena itu kita harus bisa mengubah sistem pola-pola yang menggerakkan dalam kebudayaan tersebut.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar